Link Anggota Kelompok:
Politik Global Amerika Serikat di Korea Selatan oleh Tasya Prima Avissa
Kebijakan Amerika Serikat terhadap Korea Utara oleh Feri Anta
Politik Global AS di Korea Utara oleh Amanda Nabhila
One China Policy dan Double Standard Amerika oleh Gede Maolana
Adhi Sudrajat
Politik Global Amerika Serikat di Korea Selatan oleh Tasya Prima Avissa
Kebijakan Amerika Serikat terhadap Korea Utara oleh Feri Anta
Politik Global AS di Korea Utara oleh Amanda Nabhila
One China Policy dan Double Standard Amerika oleh Gede Maolana
Adhi Sudrajat
Perekonomian
Tiongkok yang tumbuh sekitar 10% tiap tahunnya dalam dekade Pratama dari abad
ke-21, menjadikan Tiongkok sebagai negara yang memiliki tingkat pertumbuhan
ekonomi tertinggi dan berkelanjutan dalam sejarah dunia. Setelah mengalami masa-masa sulit bagi perekonomian Tiongkok di
abad ke-20 yang terutama negara ini bergerak di sektor pertanian dan pada waktu
itu juga sedang terjadi perang dan hal-hal lain yang membuat depresi sehingga
berdampak pada kemampuan pemerintah yang tidak memadai untuk menanggulangi
masalah ekonomi di Tiongkok. Namun kini Tiongkok dapat berkembang dengan
perekonomian modernnya yang ditandai dengan antusiasme yang cukup aktif dalam
pertumbuhan ekonomi, investasi modal dan industrialisasi, dan produktivitas
yang terus meningkat melalui perkembangan teknologi. Terutama di tahun 1978,
Tiongkok memiliki ukuran yang begitu spektakuler dalam penanaman modal asing yang
berhubungan dengan sektor riil atau FDI (Foreign Direct Investment),
tenaga kerja yang murah, dan adanya investasi sumber daya manusia etnis
Tionghoa di perantauan terutama dalam segi finansial.
Keterlibatan
Tiongkok dalam perekonomian modern dan dapat mengglobal tidak lepas dari
sejarah Tiongkok pada sejarahnya yang sudah dimulai ribuan tahun lalu. Dinasti Song yang menjadi awal perubahan utama dalam perekonomian
Tiongkok yang di akhir dinasti ini terjadinya spesialisasi dalam menghasilkan
tanaman komersial yang akan didistribusikan ke dalam pasar. Hingga di saat yang
sama, pasar dalam negeri terus berkembang dan terus berekspansi di bawah
Dinasti Qing dan Ming. Dalam periode tersebut, perekonomian Tiongkok telah
menggunakan uang kertas maupun uang logam dalam transaksi. Singkatnya, hingga
kini, reformasi ekonomi di Tiongkok dimulai di wilayah pinggiran dengan para
petani diberikan kebebasan untuk menjual tanaman mereka ke pasar bebas dan para
individu didorong untuk membuat perusahaan (Mitler, 2011). Pada awal 1980-an,
Deng Xiaoping membentuk Zona Ekonomi Khusus atau Special Economic Zone (SEZ)
di kota-kota pelabuhan di pantai selatan Tiongkok. Hal tersebut mengisyaratkan
keinginan Deng Xiaoping untuk membuat tahap pertama dalam pertumbuhan ekonomi
yang mana tahap tersebut akan dimulai dengan manufaktur dan industri ringan,
serta didorong oleh modal asing yang akan distimulasi dengan tarif pajak.
Perekonomian
setiap negara ditopang oleh dua kategori usaha yaitu usaha swasta yang ada di
negara tersebut dan usaha yang dimiliki dan dikelola oleh negara itu sendiri. Sebagai negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup
pesat, Tiongkok juga pernah mengalami keterpurukan ekonomi khususnya dalam
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dikelola negara tersebut (Ramdan, 2007). Namun pada tahun
1999, industri milik negara dan usaha lain mengalami kenaikan keuntungan 84,2
persen dan terus meningkat di tahun berikutnya dengan kenaikan dua kali lipat.
Hal ini merupakan keseriusan pemerintah Tiongkok dalam memperbaiki sektor BUMN
dan perekonomian negaranya seperti yang dikatakan oleh Sheng Huaren sebagai
Menteri perekonomian dan perdagangan negara, dan berusaha untuk mereformasi
BUMN yang dikelola negara.
Kepiawaian
Tiongkok sendiri yaitu dalam menentukan langkah dan strategi yang tepat
berkenaan dengan mata uangnya yaitu Yuan menjadikan perekonomian Tiongkok saat
ini berkembang dan membuat beberapa negara khususnya Amerika Serikat (AS)
merasa khawatir dan dirugikan.
Mata uang sendiri merupakan salah satu indikasi perekonomian suatu negara yang
membuktikan jika mata uang tersebut kuat maka secara umum kondisi perekonomian
dan kondisi keuangan negara tersebut cukup baik. Kebijakan pemerintah Tiongkok
dalam mematok mata uangnya dengan cara melemahkan nilai tukarnya dinilai
langkah yang tepat. Karena keadaan tersebut menjadikan perdagangan Amerika
Serikat terhadap Tiongkok mengalami defisit di tahun 2002 yang mencapai 120
miliar dolar AS dan di tahun 2003 mengalami kenaikan defisit kembali menjadi
130 miliar dolar AS. Dampak dari keadaan tersebut membuat defisit perdagangan
Amerika Serikat terhadap Tiongkok semakin bertambah besar. Selain itu
barang-barang ekspor Tiongkok menjadi sangat murah dan hal tersebut sangat
menguntungkan di pasar global. Dengan hal yang semacam ini menjadikan Amerika
Serikat adalah salah satu negara yang sangat khawatir dengan perkembangan
perekonomian Tiongkok dan terus mendesak pihak pemerintah negara Tirai Bambu tersebut
agar merevaluasi atau menaikan nilai tukar Yuan, serta menyerahkan nilai Yuan
terhadap mekanisme pasar internasional.
Kebijakan
pemerintah Tiongkok terhadap mata uangnya membuat Amerika Serikat pun memiliki
strategi maupun kebijakan terhadap Tiongkok.
Pada masa presiden George W. Bush, pemerintah AS menekan Tiongkok sekuat
mungkin untuk merevaluasi Yuan dengan meminta bantuan terhadap International
Monetary Fund (IMF) agar mau menyerahkan nilai mata uangnya terhadap
mekanisme pasar. Dan pada akhirnya, Tiongkok mau mengendurkan kebijakannya
dalam mematok Yuan pada bulan Juli 2005. Melihat hal tersebut, ekonomi nasional
Amerika Serikat merupakan entitas utama dalam hubungan ekonomi internasional
yang pada gilirannya ekonomi nasional mengintegrasikan diri ke dalam pasar
global untuk mendapatkan keuntungan dari interaksinya dengan ekonomi nasional
lainnya. Konsep globalized economy mengacu pada pembentukan pasar atau
perekonomian global yang harus diperhitungkan oleh perekonomian nasional ketika
mereka merumuskan kebijakannya (Jemadu, 2008).
Kebijakan
Amerika Serikat dalam menghadapi modernitas perekonomian Tiongkok ini telah
dilakukan dengan berbagai cara.
Pada bulan September 2007 sendiri, Amerika Serikat melakukan kunjungan ke
Tiongkok oleh menteri ekonomi yang pada waktu itu dijabat oleh Pulson dalam
rangka mengerem ekspansi bisnis globalnya yang diakibatkan oleh ketimpangan
suku bunga Yuan dan AS sehingga Tiongkok diminta membuka fleksibilitas yang
lebih untuk kran suku bunganya agar berimbang dengan dolar AS. Paulson juga
meminta Tiongkok menginvestasikan cadangan dolarnya dengan membeli obligasi
Amerika Serikat. Namun, justru Tiongkok menolak permintaan Amerika Serikat
sendiri, sehingga misi Pauson menjadi misi yang gagal. Sebagai kekuatan ekonomi
baru, Tiongkok kini mulai memainkan peran melawan kapitalis dunia di bawah
Amerika Serikat untuk menggelembungkan cadangan devisanya dengan strategi yang
sama seperti Amerika Serikat yaitu melalui strategi Financial Netting yaitu
mengambil untung dari selisih jual beli instrumen pasar finansial di bursa
berjangka dan bursa efek internasional (Ms, 2010).
Dalam
menghadapi persoalan yang sedemikian, di sisi lain kepentingan Amerika Serikat
di dalam negerinya justru mendorong pertumbuhan ekonomi dengan nilai dolar yang
rendah. Strategi ini adalah upaya untuk
memperbaiki struktur finansial di mana suku bunga AS sempat berada di level 5,5.
Tujuan akhir Amerika Serikat dalam kebijakannya terhadap Tiongkok adalah menimbulkan
dampak pada keguncangan stabilitas berbagai harga komoditi dan energi dunia
yang berimplikasi pada bergeraknya nilai tukar
sebagai titik awal krisis perekonomian riil itu sendiri. Strategi krisis
yang disengaja adalah pelemahan dolar yang secara otomatis akan mendapatkan
cadangan devisa dari Tiongkok yang merupakan paling besar di dunia yang akan
menguntungkan Amerika Serikat.
DAFTAR PUSTAKA
Daaleder, Ivo H., dan James M. Lindsay. 2003. America Unbound. New
Jersey : Joh Wiley & Son Inc.
Jemadu, Aleksius. 2008. Politik Global Dalam
Praktik dan Teori. Bandung : Graha Ilmu.
Mitler, Rana. 2011. China Modern
Menguasai Dunia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Ms, Zulfikar. 2010. Squash Games Theory. Jakarta :
Elex Media Komputindo.
Ramdan, Anton. 2007. Bisnis Cina Memang
Gila. Jakarta : Shahara Digital Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar